Selasa, 19 Juni 2012

Torehan Rasa



“plakkk…!!!”

Dan tangan  itupun melayang ke batang leher laki-laki yang bertubuh kekar yang terbaring santai di kasur dalam kamar berukuran sempit. Serentak dia terbangun, merah padam mukanya memandangi wanita yang duduk pas di dekat kepalanya tadi. Wanita itu kelihatan gugup, wajahnya tiba-tiba pucat pasi seperti tak berdarah apalagi bertatap langsung dengan mata merah kekasihnya yang lagi emosi. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut wanita itu, kecuali rasa kaget sangat jelas terlihat dari gambaran wajahnya.

“astaga.. kenapa bisa begini” gumamnya.

“kaaamu sudah berani menamparku” geram laki-laki itu dengan wajah yang agak memerah. Serentak dia menarik sederet pakaiannya yang sudah tersusun rapi di atas lemari dan dengan tergesa-gesa dia memasukkannya ke dalam ransel berwarna hitam. Baru tadi pagi pakaian itu disetrikanya segitu rapi, kemarin subuh saja dia terbangun hanya untuk mencuci pakaian milik laki-laki itu, bahkan dia harus menutup urat malunya menjemur pakaian milik orang yang menurutnya tidak pernah menaruh perhatian terhadapnya, demi mendengar sindiran  para tetangga. Namun hal itu dia hanya simpan di belakang kuping. “Yang penting aku bisa mengurangi sedikit beban Yaman” tegasnya dalam hati.

Nampaknya Yaman kekasihnya sangat tidak menerima perlakuannya. Tak ada yang mampu dilakukan olehnya kecuali hanya diam dan seakan-akan menunggu reaksi apalagi yang akan ditunjukkan oleh laki-laki yang dari tadi duduk di samping kirinya. Nafasnya terlalu berat kedengaran mungkin terlalu banyak emosi yang menggerogoti pangkal tenggorokannya sehingga baginya sulit untuk bernafas.

“Tenri..!! (itulah nama panggilan wanita itu) kamu itu sudah keterlaluan, cewe seperti itupun kau cemburui” lanjut Yaman kesal. Tak ada rekasi apapun yang dilakukan olehnya, nanar matanya hanya menyaksikan sosok di depannya bergelut dengan emosi. Bibirnya komat-kamit entah apa yang harus dia katakan.

“aku tidak cemburu” tegasnya.

“Terus apa namanya dong, kenyataannya kamu melempar handphone” Yaman melawan.

“Aku hanya tidak habis pikir, kenapa giliran aku yang sms kamu sangat malas balasnya. Aku merasa tidak nyaman. Aku sudah tegaskan berkali-kali dalam seharipun tanpa kabarmu aku tidak bisa.. kamu mengerti tidak?” jelasnya panjang lebar. Pekikan suara hati mendalam kini dia lontarkan di sela-sela isak tangisnya. Hal itulah yang selama ini selalu meronta dalam kepalanya sehingga tiap detik, menit, ataupun jam harus tau kabar kekasihnya. Sungguh menakjubkan, entah jurus apa yang dikeluarkan Yaman sampai-sampai Tenri kehilangan kendali. Baru kali Tenri yang aku kenal selalu ceria, semangat dan penuh gairah hidup harus menangis di pundak seorang pria.

“loh, aku kan sudah nelpon”

“5 menit” dan merekapun terdiam.

Kelihatannya Tenri menuntut perhatian. “Setelah yaman sudah merasa dirinya berprestasi, perhatiannya ke aku sudah kurang. Sms pun di hitung jari dalam sehari, sepertinya dia tidak menghargai kehadiranku” ujarnya suatu ketika aku mendapatnya terbaring kaku di tempat tidurnya. “ahh,, dia sibuk. Itukan demi kamu juga” kataku agar dia kelihatan bersemangat. Kemarin-kemarin aku sempat merasa iri melihat kemesraan mereka berdua, tertawa bersama dan bahkan mereka tidak akan pisah sebelum cium tangan dan kening. Hmmm. 

Tapi sekarang unek-unek yang di pendam Tenri nampaknya di keluarkan hari ini.

“ahh, kalau begitu aku pulang saja” ujar Yaman sekali lagi dengan nada yang agak tinggi.

Tenri hanya diam dan merangkul tas milik Yaman. Kasihan, sepertinya dia melarang kekasihnya pergi. Hingga aksi tarik-menarikpun harus terjadi.  Sejenak dia terdiam, dia hanya memandangi wajah kekasihnya yang dipolesi dengan kebengisan di sore hari. Entah setan dari mana yang menghantui kekasihnya hingga dia bisa tersulap dari laki-laki yang kemarinnya penuh antusias keromantisan menjadi laki-laki kasar penuh kebengisan.

“sebenarnya hanya satu hal yang aku pertahankan dan kamu harus tau itu” ujar Tenri pelan dan mengacunkan jari telunjuknya pas di depan wajah Yaman. Nanar matanya menatap Yaman yang terbaring di depannya. tumpukan butir bening di sudut matanya tak terbendung, serentak sayup-sayup suara isakan tangispun terdengar. Rintihan suara hati yang membuatnya kalah dalam hal percintaan. Yaman lah satu-satunya laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya sampai betul-betul tidak bisa melawan. Bahkan  ketika orang mencela kekasihnya dia hanya berujar dengan penuh keyakinan“sesungguhnya dia tidak memiliki kelebihan apa-apa, aku lebih mencintai yang biasa-biasa karena aku yakin dialah sosok yang bisa menghargai kehadiranku, bukan mengacuhkanku”

Namun kenyataan tidak seperti yang dia bayangkan, Yaman yang dulu bukan Yaman yang sekarang. Yaman yang dia kenal sederhana kini berubah jadi gaya dan harus serba modis, sosok rendah dirinya hilang tertelan kesombongan yang melingkar di kepalanya, sifat perhatiannya tersulap jadi rasa tidak peduli dan kesibukan adalah segala-galanya. Sosok yang berkarakter penuh tanggung jawab beralih menjadi orang yang lupa diri dari asalnya, acuh tak acuh dengan sosok yang merasa disingkirkan dengan kesibukannya.

“aku ingin berubah” ujarnya lirih ketika kutemui terbaring di kamarnya. “mulai besok akan kukurangi semuanya, mulai dari perhatian sampai ke hal-hal yang semuanya sering aku lakukan, aku tidak ingin terpuruk seperti ini, aku ingin diriku yang dulu, tegar dan bersemangat” lanjutnya. Ternyata dia masih menyimpan kekuatan itu, kekuatan luar biasa. Pancarkan selagi kamu masih punya kesempatan.


06 Juni 2012
Nalwa


5 komentar: