“plakkk…!!!”
Dan
tangan itupun melayang ke batang leher
laki-laki yang bertubuh kekar yang terbaring santai di kasur dalam kamar
berukuran sempit. Serentak dia terbangun, merah padam mukanya memandangi wanita
yang duduk pas di dekat kepalanya tadi. Wanita itu kelihatan gugup, wajahnya
tiba-tiba pucat pasi seperti tak berdarah apalagi bertatap langsung dengan mata
merah kekasihnya yang lagi emosi. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut
wanita itu, kecuali rasa kaget sangat jelas terlihat dari gambaran wajahnya.
“astaga..
kenapa bisa begini” gumamnya.
“kaaamu
sudah berani menamparku” geram laki-laki itu dengan wajah yang agak memerah.
Serentak dia menarik sederet pakaiannya yang sudah tersusun rapi di atas lemari
dan dengan tergesa-gesa dia memasukkannya ke dalam ransel berwarna hitam. Baru
tadi pagi pakaian itu disetrikanya segitu rapi, kemarin subuh saja dia
terbangun hanya untuk mencuci pakaian milik laki-laki itu, bahkan dia harus
menutup urat malunya menjemur pakaian milik orang yang menurutnya tidak pernah
menaruh perhatian terhadapnya, demi mendengar sindiran para tetangga. Namun hal itu dia hanya simpan
di belakang kuping. “Yang penting aku bisa mengurangi sedikit beban Yaman”
tegasnya dalam hati.
Nampaknya
Yaman kekasihnya sangat tidak menerima perlakuannya. Tak ada yang mampu
dilakukan olehnya kecuali hanya diam dan seakan-akan menunggu reaksi apalagi
yang akan ditunjukkan oleh laki-laki yang dari tadi duduk di samping kirinya.
Nafasnya terlalu berat kedengaran mungkin terlalu banyak emosi yang
menggerogoti pangkal tenggorokannya sehingga baginya sulit untuk bernafas.
“Tenri..!!
(itulah nama panggilan wanita itu) kamu itu sudah keterlaluan, cewe seperti
itupun kau cemburui” lanjut Yaman kesal. Tak ada rekasi apapun yang dilakukan
olehnya, nanar matanya hanya menyaksikan sosok di depannya bergelut dengan
emosi. Bibirnya komat-kamit entah apa yang harus dia katakan.
“aku
tidak cemburu” tegasnya.
“Terus
apa namanya dong, kenyataannya kamu melempar handphone” Yaman melawan.
“Aku
hanya tidak habis pikir, kenapa giliran aku yang sms kamu sangat malas
balasnya. Aku merasa tidak nyaman. Aku sudah tegaskan berkali-kali dalam
seharipun tanpa kabarmu aku tidak bisa.. kamu mengerti tidak?” jelasnya panjang
lebar. Pekikan suara hati mendalam kini dia lontarkan di sela-sela isak
tangisnya. Hal itulah yang selama ini selalu meronta dalam kepalanya sehingga
tiap detik, menit, ataupun jam harus tau kabar kekasihnya. Sungguh menakjubkan,
entah jurus apa yang dikeluarkan Yaman sampai-sampai Tenri kehilangan kendali. Baru
kali Tenri yang aku kenal selalu ceria, semangat dan penuh gairah hidup harus
menangis di pundak seorang pria.
“loh,
aku kan sudah nelpon”
“5
menit” dan merekapun terdiam.
Kelihatannya
Tenri menuntut perhatian. “Setelah yaman sudah merasa dirinya berprestasi,
perhatiannya ke aku sudah kurang. Sms pun di hitung jari dalam sehari,
sepertinya dia tidak menghargai kehadiranku” ujarnya suatu ketika aku
mendapatnya terbaring kaku di tempat tidurnya. “ahh,, dia sibuk. Itukan demi
kamu juga” kataku agar dia kelihatan bersemangat. Kemarin-kemarin aku sempat
merasa iri melihat kemesraan mereka berdua, tertawa bersama dan bahkan mereka
tidak akan pisah sebelum cium tangan dan kening. Hmmm.
Tapi sekarang unek-unek
yang di pendam Tenri nampaknya di keluarkan hari ini.
“ahh,
kalau begitu aku pulang saja” ujar Yaman sekali lagi dengan nada yang agak
tinggi.
Tenri
hanya diam dan merangkul tas milik Yaman. Kasihan, sepertinya dia melarang
kekasihnya pergi. Hingga aksi tarik-menarikpun harus terjadi. Sejenak dia terdiam, dia hanya memandangi
wajah kekasihnya yang dipolesi dengan kebengisan di sore hari. Entah setan dari
mana yang menghantui kekasihnya hingga dia bisa tersulap dari laki-laki yang
kemarinnya penuh antusias keromantisan menjadi laki-laki kasar penuh
kebengisan.
“sebenarnya
hanya satu hal yang aku pertahankan dan kamu harus tau itu” ujar Tenri pelan
dan mengacunkan jari telunjuknya pas di depan wajah Yaman. Nanar matanya
menatap Yaman yang terbaring di depannya. tumpukan butir bening di sudut
matanya tak terbendung, serentak sayup-sayup suara isakan tangispun terdengar.
Rintihan suara hati yang membuatnya kalah dalam hal percintaan. Yaman lah
satu-satunya laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya sampai betul-betul tidak
bisa melawan. Bahkan ketika orang
mencela kekasihnya dia hanya berujar dengan penuh keyakinan“sesungguhnya dia
tidak memiliki kelebihan apa-apa, aku lebih mencintai yang biasa-biasa karena
aku yakin dialah sosok yang bisa menghargai kehadiranku, bukan mengacuhkanku”
Namun
kenyataan tidak seperti yang dia bayangkan, Yaman yang dulu bukan Yaman yang
sekarang. Yaman yang dia kenal sederhana kini berubah jadi gaya dan harus serba
modis, sosok rendah dirinya hilang tertelan kesombongan yang melingkar di
kepalanya, sifat perhatiannya tersulap jadi rasa tidak peduli dan kesibukan
adalah segala-galanya. Sosok yang berkarakter penuh tanggung jawab beralih
menjadi orang yang lupa diri dari asalnya, acuh tak acuh dengan sosok yang
merasa disingkirkan dengan kesibukannya.
“aku
ingin berubah” ujarnya lirih ketika kutemui terbaring di kamarnya. “mulai besok
akan kukurangi semuanya, mulai dari perhatian sampai ke hal-hal yang semuanya
sering aku lakukan, aku tidak ingin terpuruk seperti ini, aku ingin diriku yang
dulu, tegar dan bersemangat” lanjutnya. Ternyata dia masih menyimpan kekuatan
itu, kekuatan luar biasa. Pancarkan selagi kamu masih punya kesempatan.
06
Juni 2012
Nalwa
jika terus berusaha..pasti akan lebih baik..lagi..ini saja nahebatmo...
BalasHapusinz.allah k'.. masih sementara belajar kwodonk...
BalasHapusinz.allah k'.. masih sementara belajar kwodonk...
BalasHapusgood
BalasHapusthankz
BalasHapus