Kamis, 05 Juli 2012

tangan tangan munafik


Sangat manis jemarimu bersemayam di atas kertas kosong
Lincah mengukir gadis bermuka hitam
Melukis keindahannya hingga berdarah-darah
Paras suci nan ayu kau bumbui dengan setumpuk dosa
Sombong…!!!
Kau tangan liar bermuka munafik
Menyulap palang meraih ambisimu
Melepas cakar tak bertuan
Membiarkannya menggores, merobek tak berperikemanusiaan
Adakah kau punya tanggung jawab..??
Tengoklah pangkal bahumu
Secarik kertas kosong, masih suci dalam peraduan
Tidakkah kau ingat, hidupnya dalam bayang semu
Semoga saja tak teronrong tangan-tangan munafik
Seperti aku, seperti kau
Yah, semua tidak akan terjadi jika bukan karena kau

Selasa, 19 Juni 2012

Torehan Rasa



“plakkk…!!!”

Dan tangan  itupun melayang ke batang leher laki-laki yang bertubuh kekar yang terbaring santai di kasur dalam kamar berukuran sempit. Serentak dia terbangun, merah padam mukanya memandangi wanita yang duduk pas di dekat kepalanya tadi. Wanita itu kelihatan gugup, wajahnya tiba-tiba pucat pasi seperti tak berdarah apalagi bertatap langsung dengan mata merah kekasihnya yang lagi emosi. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut wanita itu, kecuali rasa kaget sangat jelas terlihat dari gambaran wajahnya.

“astaga.. kenapa bisa begini” gumamnya.

“kaaamu sudah berani menamparku” geram laki-laki itu dengan wajah yang agak memerah. Serentak dia menarik sederet pakaiannya yang sudah tersusun rapi di atas lemari dan dengan tergesa-gesa dia memasukkannya ke dalam ransel berwarna hitam. Baru tadi pagi pakaian itu disetrikanya segitu rapi, kemarin subuh saja dia terbangun hanya untuk mencuci pakaian milik laki-laki itu, bahkan dia harus menutup urat malunya menjemur pakaian milik orang yang menurutnya tidak pernah menaruh perhatian terhadapnya, demi mendengar sindiran  para tetangga. Namun hal itu dia hanya simpan di belakang kuping. “Yang penting aku bisa mengurangi sedikit beban Yaman” tegasnya dalam hati.

Nampaknya Yaman kekasihnya sangat tidak menerima perlakuannya. Tak ada yang mampu dilakukan olehnya kecuali hanya diam dan seakan-akan menunggu reaksi apalagi yang akan ditunjukkan oleh laki-laki yang dari tadi duduk di samping kirinya. Nafasnya terlalu berat kedengaran mungkin terlalu banyak emosi yang menggerogoti pangkal tenggorokannya sehingga baginya sulit untuk bernafas.

“Tenri..!! (itulah nama panggilan wanita itu) kamu itu sudah keterlaluan, cewe seperti itupun kau cemburui” lanjut Yaman kesal. Tak ada rekasi apapun yang dilakukan olehnya, nanar matanya hanya menyaksikan sosok di depannya bergelut dengan emosi. Bibirnya komat-kamit entah apa yang harus dia katakan.

“aku tidak cemburu” tegasnya.

“Terus apa namanya dong, kenyataannya kamu melempar handphone” Yaman melawan.

“Aku hanya tidak habis pikir, kenapa giliran aku yang sms kamu sangat malas balasnya. Aku merasa tidak nyaman. Aku sudah tegaskan berkali-kali dalam seharipun tanpa kabarmu aku tidak bisa.. kamu mengerti tidak?” jelasnya panjang lebar. Pekikan suara hati mendalam kini dia lontarkan di sela-sela isak tangisnya. Hal itulah yang selama ini selalu meronta dalam kepalanya sehingga tiap detik, menit, ataupun jam harus tau kabar kekasihnya. Sungguh menakjubkan, entah jurus apa yang dikeluarkan Yaman sampai-sampai Tenri kehilangan kendali. Baru kali Tenri yang aku kenal selalu ceria, semangat dan penuh gairah hidup harus menangis di pundak seorang pria.

“loh, aku kan sudah nelpon”

“5 menit” dan merekapun terdiam.

Kelihatannya Tenri menuntut perhatian. “Setelah yaman sudah merasa dirinya berprestasi, perhatiannya ke aku sudah kurang. Sms pun di hitung jari dalam sehari, sepertinya dia tidak menghargai kehadiranku” ujarnya suatu ketika aku mendapatnya terbaring kaku di tempat tidurnya. “ahh,, dia sibuk. Itukan demi kamu juga” kataku agar dia kelihatan bersemangat. Kemarin-kemarin aku sempat merasa iri melihat kemesraan mereka berdua, tertawa bersama dan bahkan mereka tidak akan pisah sebelum cium tangan dan kening. Hmmm. 

Tapi sekarang unek-unek yang di pendam Tenri nampaknya di keluarkan hari ini.

“ahh, kalau begitu aku pulang saja” ujar Yaman sekali lagi dengan nada yang agak tinggi.

Tenri hanya diam dan merangkul tas milik Yaman. Kasihan, sepertinya dia melarang kekasihnya pergi. Hingga aksi tarik-menarikpun harus terjadi.  Sejenak dia terdiam, dia hanya memandangi wajah kekasihnya yang dipolesi dengan kebengisan di sore hari. Entah setan dari mana yang menghantui kekasihnya hingga dia bisa tersulap dari laki-laki yang kemarinnya penuh antusias keromantisan menjadi laki-laki kasar penuh kebengisan.

“sebenarnya hanya satu hal yang aku pertahankan dan kamu harus tau itu” ujar Tenri pelan dan mengacunkan jari telunjuknya pas di depan wajah Yaman. Nanar matanya menatap Yaman yang terbaring di depannya. tumpukan butir bening di sudut matanya tak terbendung, serentak sayup-sayup suara isakan tangispun terdengar. Rintihan suara hati yang membuatnya kalah dalam hal percintaan. Yaman lah satu-satunya laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya sampai betul-betul tidak bisa melawan. Bahkan  ketika orang mencela kekasihnya dia hanya berujar dengan penuh keyakinan“sesungguhnya dia tidak memiliki kelebihan apa-apa, aku lebih mencintai yang biasa-biasa karena aku yakin dialah sosok yang bisa menghargai kehadiranku, bukan mengacuhkanku”

Namun kenyataan tidak seperti yang dia bayangkan, Yaman yang dulu bukan Yaman yang sekarang. Yaman yang dia kenal sederhana kini berubah jadi gaya dan harus serba modis, sosok rendah dirinya hilang tertelan kesombongan yang melingkar di kepalanya, sifat perhatiannya tersulap jadi rasa tidak peduli dan kesibukan adalah segala-galanya. Sosok yang berkarakter penuh tanggung jawab beralih menjadi orang yang lupa diri dari asalnya, acuh tak acuh dengan sosok yang merasa disingkirkan dengan kesibukannya.

“aku ingin berubah” ujarnya lirih ketika kutemui terbaring di kamarnya. “mulai besok akan kukurangi semuanya, mulai dari perhatian sampai ke hal-hal yang semuanya sering aku lakukan, aku tidak ingin terpuruk seperti ini, aku ingin diriku yang dulu, tegar dan bersemangat” lanjutnya. Ternyata dia masih menyimpan kekuatan itu, kekuatan luar biasa. Pancarkan selagi kamu masih punya kesempatan.


06 Juni 2012
Nalwa


Selasa, 12 Juni 2012

Jidad Berdosa


Seketika embun menyapa, rintihan hujanpun mencakar pelupuk mata
entah gundah menyengat atau telunjuk tuhan menyapa
Akankah cahaya kembali menyapaku
Mohon tangguhkan kedua kaki menginjak tangga ketiga
Biarkan lembaran tersulap menjadi puing-puing terindah
Kan kurangkai dalam bingkai mutiara kasih
Tak luput dari penglihatan dan tak lepas dari genggaman

Inikah aku…
Kertas hampir saja menghitam
Ada kelam menghujat
Gelisah menghimpit
Tangan bernanah aneh, sepertinya beracun

Akan kukumpulkan kembali puing tak berguna
Dan kurangkai bukan seperti semula
Lebih indah dan lebih menarik
Meski kaki berdarah-darah
Meski lorong gelap kutempuh
Kuyakin ada cahaya dibalik sana…
Inilah aku jidad-jidad berdosa

DEAR ABU-ABU


Sebenarnya menceritakan hal  ini padamu merupakan hal yang tidak penting.  Tapi ingin kujelaskan padamu apa dan bagaimana kejadian dua tahun yang lalu itu. Kehadiran setumpuk pena yang ingin berbagi pengalaman memberiku motivasi untuk menyapa dan bertanya kabar tentang kamu dan pujaan hatimu setelah aku. Mungkinkah dengan lembaran biru yang kau hamparkan selama setahun mampu menutupi seribu kisah dua tahun yang lalu? Mungkin saja dengan bukti yang tidak sengaja kau sudah menjawabnya. Apakah mungkin kau masih menyempatkan diri untuk memikirkannya? Jawabannya hanya ada dalam pikiran kamu.
“Weni.. minggu ini kau akan kedatangan tamu istimewa dan aku berharap kau bisa bahagia mendengarnya” begitulah katamu hanya untuk melihatku tersenyum.
“Mudah-mudahan”
Meskipun sedikit tak mengerti maksud dari perkataanmu, tapi aku mampu merasakan kalau itu adalah persembahan terindah untukku. Perlu pengakuan, setelah pintu lebar seribu kisah tertutup dengan kejadian kemarin, tak pernah lagi kutemukan kisah serupa setelah tiga tahun kemudian.
Aku masih sangat teringat sosok lima tahum silam yang pernah duduk di kursi rotan bekas jerih payah ayah dengan posisi kepala menunduk. Bagiku itu sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin saja kamu bilang itu konyol, memalukan dan sangat mengecewakan tapi bagiku itu adegan yang luar biasa dan aku berharap kejadian serupa bisa terulang untuk kedua kalinya.
“Maksud dari kedatangan kami kemari ingin mempersatukan kembali tali kekeluargaan yang makin lama makin terasa sulit untuk dianalisa dari keturunan keluarga terdahulu sekaligus sebagai ajang silaturrahmi dengan keluarga anda” kata bijak yang sempat tertangkap di telingaku.
“Inikah tamu istimewa yang Dilan katakan kemarin?”
Keheningan seolah-olah menjawab pertanyaanku. Sangat tajam tatapan ayahku ke arah ayahmu yang masih saja menunduk. Tak sepatahpun kata yang diucapkannya, aku hanya menyaksikan kelincahan jemari tangannya mempermainkan puntun rokok dengan beberapa kali isapan saja.
“Kedatangan anda merupakan sebuah penghargaan bagi keluarga kami. Tapi sekiranya berilah kami waktu untuk memikirnya lebih matang. Insya Allah kami akan mengabari anda dalam waktu dekat ini” akhirnya ayah menjawabnya.
Ayah tertunduk hingga kulit wajah yang sudah mulai mengeriput agak terhalang oleh rambut yang cukup jelas dengan torehan putih dan keabu-abuan, entah apa yang ada dipikiran dia sekarang. Harapanku, ayah mampu merasakan dan mengerti apa yang telah terjadi olehku. Tapi setidaknya kamu harus tahu apa jawaban dari beliau..? Jawaban yang tidak mampu kululuhkan meskipun beberapa tembakan bujukan harus kulontarkan.
Ketika itu, ayah mengajariku sakit hati. Menurutku  dia telah mengobrak abrik kebahagiaan yang sudah kurancang dan kususun dengan matang. Padahal aku berniat mengurangi beban punggung keriput yang menumpuk. Mengingat kamu sudah lumayan berkecukupan untuk menafkahiku.
Ingatan abu-abumu kembali akan kuhitamkan biar kamu bisa mengerti bagaimana diary dari wanita yang pernah kau puja dan kau campakkan selanjutnya. Jelas saja bisikan hati kamu berkata “ah..tidak” tapi aku selalu berkata “iya”. Terlalu boros jika aku harus membeberkan banyak tinta hanya untuk meminta pengertian kamu, karena jelas saja kau tidak peduli.

Hhhh..pernah aku menyaksikan kenekatan kamu berbicara langsung dengan ayah hanya untuk meminta restu. Bukan lagi ayah kamu atau suruhan ayah kamu yang membahas masalah yang semestinya tidak boleh dilakukan olehmu. Pekikan suara tangisan yang tertahan sangat jelas terdengar olehku, meskipun hanya dengan alat komunikasi.
Yah, akan kujawab kebingunganmu sekarang. Kenapa ayah mengulur waktu untuk merespon lamaranmu? Mengapa ada kata saudara perempuanku melarangku kawin muda? Kenapa lamaranmu tidak diterima sama seperti pamanmu yang pernah melamar dua kali berturut-turut adik dari ayahku? Bukan karena harta ataupun rupamu. Tapi kamu harus menelusuri silsilah keluarga dan adat yang berlaku. Silsilah keluarga yang terbeberkan di lontara dan darah takku masih berlaku bagi keluargaku dan kamu tidak termasuk kedalamnya, meskipun aturan seperti itu sama sekali tidak diterima oleh akalku. Menerima kau apa  adanya akan membuatku tersisihkan dari keluargaku.
Ingatan aku masih hitam, tidak pernah menjadi abu-abu apalagi menjadi putih ketika kamu memintaku menemuimu di bandara Hasanuddin Makassar. Sangat kurasakan betapa sakitnya harus memilih satu di antara dua pilihan dan harus kehilangan salah satunya.
“Sekarang aku berada di bandara. Aku minta keputusan dari kau yang menurutmu paling terbaik dan apapun itu aku siap mendengarnya. Kalaupun memang kamu ingin tetap memilih ikut denganku, sekarang juga aku jemput kamu” perkataan kamu hampir membuatku kehilangan kendali.  Memang saat itu, aku berada di Makassar dan namaku sudah terdaftar di salah satu Universitas ternama di Makassar. Kuliah dijadikan alasan utama agar kamu dapat berlapang dada menerima keputusan dari ayah meskipun itu sedikit menguras keadaan ekonomi keluarga. Yah, dengan cara itulah sehingga kau tidak mengetahui alasan yang sebenarnya guna menghindari rasa tersinggung dari pihak keluargamu.
Meskipun sulit, tapi tidak sedikitpun sikap pesimisku muncul untuk menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dengan harapan kata pisah tidak berlanjut. Bukan karena Dilan yang lain sudah tidak ada, tapi mungkin tidak akan kutemukan sosok sederhana dan bertanggung jawab sepertimu.
Sekarang giliran ketika kau kembali ke tanah kelahiranmu, setelah bertahun-tahun berjuang mencari nafkah di bangsa dimetri. Kamu harus kembali dengan menerima kekecewaan dan menyaksikan merah padam wajah keluargamu. Aku sangat merasakan hal itu, karena ketololan kamu, keceplosan kamu, yang tanpa banyak pertimbangan kamu seenaknya memutuskan uang tunai yang kau siapkan untuk meminangku. Andai kata uang tunai tidak sebanyak biaya pembelian ikan busuk, mungkin aku tidak akan berkomentar. Sangat tersinggung, hanya dengan uang seikat kamu sudah mantap untuk mempersuntingku. Mungkin menurutmu itu sudah sangat lumayan, tapi setidaknya kamu mengangkat sedikit harga diriku dengan memberiku uang tunai lebih dari uang tunai saudara kandungku. Mengingat hal itu, penyesalan selalu menghantuiku. Kenapa aku harus meresponmu waktu itu? Bukankah itu keputusan dan hak keluarga yang menentukannya?
Bagaimana dampaknya? Saling sindir dari kedua pihak keluarga tidak mampu di elakkan. itu karena ketololan kamu, kenapa kamu menyampaikan hal itu kepada mereka? Aku bisa memastikan kamu tidak berminat lagi untuk mengenangnya. Tapi aku tidak menginginkan kau seenaknya mendelete kejadian yang menurutku sangat berharga. Perasaan khawatirmu akan munculnya tanduk kemarahan pujaan hatimu mengantarmu seolah tidak pernah merasakan hal itu. Dia berhak tahu. Weni pernah menjadi sosok paling terindah di dalam hidup suaminya.
Oya, mudah-mudahan ingatan kamu masih pulih. Ketika virus-virus negative telah menguasaimu, kau mengajakku ke daerah primitive tempatmu mencari nafkah. Bagaimana keputusanku dengan pertanyaan kamu? kata “iya” lantang kuucapkan. Aku siap mengikutimu, meskipun harus meminta pengakuanmu untuk tidak mengembalikan aku di tanah kelahiranku.Tapi ketika itu pula, dengan sangat pelan kau membatalkan niatmu. Entah apa yang dalam pikiran kamu.
“Dilan, aku takut kehilangan kamu. Tapi aku yakin, pasti orang tuamu sudah mempersiapkan calon buat kamu. Mudah-mudahan dialah yang terbaik, sosok yang dikirim Tuhan untukmu. Kamu tidak perlu hiraukan bagaimanan perasaanku, biarkan dia tumbuh dan harus menanggung pahitnya hidup tapi itu harus kujalani. Insya Allah rasa sakit itu akan sembuh dengan perlahan meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.  Tunggu aku di pesta kebahagiaanmu”
Dekapan hangat tangan kamu masih sangat kuingat. Ketika untuk pertama dan terakhir kalinya kamu mencium keningku. Yah,, itu kenang-kenangan yang kamu simpan buat aku. Kamu menangis dan merangkul aku. “tangisan perpisahan” kita tidak mungkin bersatu Dilan.
Kamu tahu tidak?  Menuangkan tinta di kertas putih sungguh sangat menguras air mataku.  Aku hanya berpesan  sekarang atau suatu saat nanti kalau dia tidak menyayangimu sama seperti aku, tolong cari keberadaanku, dimanapun aku. Kamu harus mendapatkannya. Karena saat itu aku belum mendapatkan sosok yang  dapat menggantikan posisimu.
“Jujur saja. Aku telah dipertemukan dengan seseorang keluarga dari ibu. Aku ingin meminta restu kamu Weni. Ijinkan aku untuk bersujud di depan kamu. Aku meminta maaf telah menyimpan luka untukmu”
Kamu bersujud dan sesekali memandang mataku. Kamu lihat kan? Betapa banyak air mata habis terkuras hanya untuk mengakhiri semuanya.
Dilan, beberapa hari setelah kejadian itu, kabar angin telah banyak sampai di telingaku. Kamu akan merayakan hari kebahagiaan kamu dengan gaun selayaknya raja meskipun hanya sehari. Tangisan selalu kukeluarkan meskipun itu harus kuadukan dengan bantal-bantal yang berkeliaran di kamarku. Hanya itu yang mampu kulakukan. Terlebih lagi, aku harus menerima tamu yang ternyata hanya ingin mengantar undangan pernikahanmu. Ukhh….
Meskipun beberapa ocehan tetangga yang sempat terekam diingatanku kalau kau sempat melawan orang tuamu hanya untuk mempertahankan aku. Terima kasih banyak, kamu masih sempat melakukannya meskipun itu tidak berhasil.
Dengan torehan pena ini, aku ingin meminta maaf. Permintaan maaf yang sampai sekarang ini belum tersampaikan. Jangan pernah merasa tersinggung dengan torehan ini, aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang pernah terjadi dua tahun yang lalu. Mudah-mudahan kehadiranku tidak mengganggu ketenangan keluargamu. Torehan yang kuciptakan hanya untukmu agar kau mampu merasakan bagaimana kebenaran  dua tahun yang lalu. Keyakinan memotivasiku untuk bertanya kabar kepadamu dan menghitamkan ingatan kamu, karena aku yakin sekarang kamu belum menjadi putih dan masih abu-abu.
Oh hapeku memekik. Tak perlu lagi kauceritakan semua itu. Aku memang telah tahu dari awal! Dilan.
“Dilan? Bagaimana ia bisa tahu?”
***

RINTIH MERINDU


Akankah kau merasakan denyut jantung itu?
Berdebar berbunga  kegelisahan entah esok  lurus atau liku
Berirama seiring kehidupan berkhias senyum dan air mata
Bergetar dikala gambaran wajah dan tubuhmu nampak jelas di pelupuk mata
Mungkinkah kau mendengar teriakan merintih itu?
Mungkinkah kau merasakan pekikan suara hati meronta?
Mungkinkah…?? atau ahhh..
Keraguan tak hentinya menghadang langkah kakiku
Jika wajahnya semakin nampak serasa aku tak bertulang
Mendengar desahmu serasa mencabik pelupuk mata
Padahal itu yang kurindu
Sepi tapi kutak sendiri
Selalu ada kamu
Inilah rintih buah hati yang merindu

PETUALANG SEMALAM



Hembusan angin malam menusuk dan menjalar keseluruh sendi-sendi tulangku, gigi kaku, mulut tak mampu menganga apalagi mengeluarkan suara untuk berkomentar,  hanya deruman suara knalpot motor yang menggerogoti telingaku. Jalanan meliuk-liuk mengkilap dari rembesan air gunung yang menggambarkan kenaturalan Desa Manipi di Kabupaten Sinjai,  di bawah terik sinar matahari dengan bongkahan tanah dari atas gunung jatuh ke tanah yang berlapis aspal. Suara tangisan jengkrik di antara deretan pohon pinus yang tumbang dan terjatuh dalam jurang yang berada pas disamping kananku. Salju hitam jelas nampak di depan mataku mengais rerumputan hingga ikut terjatuh di sana, dalam lembah gelap membuat lututku bergetar hebat.
“Awas….!!!” Teriakku tiba-tiba.
Aku harus menyaksikan motor yang kutumpangi makin lama makin dalam keadaan miring di antara licinnya lumpur, cepat kuturunkan kaki hingga sepatu coklat milikku harus menyentuh lumpur merah kecoklatan dengan posisi berdiri di belakang motor yang masih belum  mampu di kuasai oleh Randi temanku.
“Cakram….!!!” Teriak salah seorang warga yang juga menyaksikan situasi yang membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Sekali lagi kulirik jurang yang berada disisi kiriku “ah, tinggal sedikit, sedikit lagi aku hampir jatuh ke dalam jurang itu”. Kurang lebih dari seperempat meter aku sudah terjatuh disana tertindis akar kayu yang mengamuk, mengais tanah tak berdosa.
Getaran hebat sangat terasa di bagian dadaku, sekujur tubuhku tiba-tiba dingin, bibirku tak lagi mampu berkata-kata. Nyawa kurasa bagai di ujung tanduk, keputusasaan sudah menyelimuti pikiranku. Dimana lagi aku harus minta pertolongan,  komat kamit bibirku berdoa di antara istigfar yang  sekali-kali terucap dari lidahku hingga memaksa tanganku untuk berpegang erat ke jacket hitam bagian pinggul Randi.
“Hati-hati” hanya kata-kata itu selalu terucap oleh bibirku di dekat telinga milik Randi, hanya ditemani tangisan jengkrik melewati malam di antara akar-akar pohon yang meronta terjepit bongkahan tanah.
Malam sepi kelam, hanya sekali-kali mataku menangkap bayangan lampu lima watt dari gubuk yang tak jauh dari tempat aku melintasi tikungan-tikungan tajam itupun kurang lebih dari dua kilo aku baru menemukan lagi gubuk yang bentuk dan keadaannya tak jauh beda dari gubuk yang kulihat sebelumnya.
Lumpur masih saja terlihat di antara sinar lampu motor yang kekuning-kuningan hingga harus melewati tanjakan yang lagi-lagi penuh lumpur, bongkahan tanah tergeletak bebas bercampur air yang merembes dari sela-sela akar pohon.
“Pegangnya yang kuat…!!!” teriak Randi tiba-tiba.
Pegangan tanganku akhirnya makin kupererat berharap dapat memberiku ketenangan  dan ketegaran.
“Aaaaaaaaaah” teriakku sekali lagi, mesin motor tiba-tiba mati dipertengahan tanjakan hingga motor makin mundur hendak ke dasar tanjakan. Peganganku tiba-tiba kulepas dan sigap aku melompat dari atas motor, tanganku yang semula kaku akhirnya berani menahan bokong motor, tenaga kukerahkan sebisa mungkin. Aneh, aku yang terkenal sangat lemah dan penakut ternyata berhasil menaklukkan tanjakan.
“Tenaga dari mana?” gumamku.
Suara air terjun yang terjatuh dari sela bongkahan tanah menerpa bebatuan besar jelas terdengar di tengah bisunya malam dan akhirnya keheningan dipecahkan oleh suara motor yang menderu-deru dari arah barat hendak berpapasan dari rombonganku dari arah timur. Lambaian tangan dari pengendara motor Jupiter hitam itu tertangkap oleh sorotan lampu motorku. Tangan yang terlihat mengarah ke bawah dan digerakkan naik turun sebagai perintah agar rombonganku segera berhenti.
“Maaf ada apa?” ujar ketua rombonganku memulai pembicaraan setelah mematikan mesin motor. Mataku nanar mencari-cari wajah yang tersembunyi di balik gelapnya malam hingga orang yang membuatku penasaran mengeluarkan suara.
“Maaf, aku cuma menyarankan sebaiknya kalian kembali dan jangan meneruskan perjalanan kalian. Sangat berbahaya” perkataan yang sangat halus, dan mengandung kekhawatiran itu keluar dari bibir seorang ibu yang berbadan lumayan gemuk membawaku dalam kebingungan, Bagaimana mungkin setelah beberapa kilo perjalanan dengan rintangan yang mengancam nyawa harus segera dihentikan.
“Loh, kenapa bisa ibu?” kataku tak percaya.
“Sekali lagi maaf, aku hanya ingin menyelamatkan nyawa kalian. Kami juga hendak ke Sinjai Barat tapi terpaksa kami harus menunda dan kembali ke Makassar. Lihat ini, bapak sudah terjatuh berapa kali” ibu itu mencoba menjelaskan ke kami.
Koyakan akar pohon di antara lumpur mengerikan sudah tergambar jelas di pikiranku, patahnya jembatan yang memaksa harus mendaki di antara lumpur yang mengancam hendak menimbun badan, ditambah lagi bongkahan tanah yang terjatuh dari puncak gunung dan akar-akar pohon terjatuh dengan ukuran yang tidak mampu dirangkul dalam ukuran manusia sepertiku. Gambaran yang terukir dikepalaku dan mungkin saja gambaran itu dirasakan oleh teman satu rombonganku makin diperkuat oleh bukti  melihat pakaian suami istri yang  penuh dengan lumpur, motor Jupiter yang berlampu terang kini redup tertutup oleh lumpur.
“Ah, pulang aja, takuuuut” ujarku tiba-tiba.
“Sebaiknya kita lanjutkan, berdoa saja biar selamat aku yakin ada jalan keluar, terima kasih atas sarannya ya ibu, bapak” sangat optimis Arsyad sebagai ketua rombongan hendak melanjutkan perjalanan.
Bongkahan tanah kini berada di depan mata, sangat tinggi di tengah-tengah jalan beraspal, terlihat kerumunan warga yang siap membantu meskipun disela-sela itu mereka jadikan sebagai sumber penghasilan. Keberuntungan serasa dipihakku, rombonganku terdiri dari beberapa lelaki yang sedikit memberiku ketenangan dan ketegaran. Beranjak dari tempatku berdiri terpaku, memikirkan solusi yang hendak kulakukan, sepatu kesayanganku kulepas dan kutenteng di tangan kiriku, celana levis abu-abu kulipat ke atas untuk menghindari lumpur.
“Awas.!!!” Teriak Nur temanku.
Tanah yang terinjak dari kakiku tiba-tiba bergerak hendak terjatuh kebawah, di jurang yang gelap menakutkan. Entah kekuatan dari mana aku berhasil melompat kearah Nur dan memeluknya erat-erat. Sekali lagi butiran bening berada di sudut mataku.
“Tidak akan terulang untuk kedua kalinya ya Allah…” ujarku di antara isakan tangisku.
“Istigfar…istigfar…”
Namun pelukan itu terlepas, entah kenapa kekuatan itu tiba-tiba hilang. Kaki kananku terpeleset. Dan ahhhhh…. Aku jatuh ke dalam jurang yang sangat menakutkan. Oh.. badanku terasa sakit setelah beberapa kali terguling, hingga aku berhasil memegang akar kayu. Mataku kupaksa melihat ke bawah.. “astaga..!!!” mataku belum menemukan titik ujungnya, hanya terlihat gelap disana. apakah mungkin aku mengakhiri hidupku disini sendiri? Tiba-tiba mataku menangkap bayangan hitam dari atas.
“Itu…itu…itu… aaaaaaaahhhh” Betapa cepat akar kayu itu bergerak kearahku hendak menimpaku. Dan semakin dekat.
“tolooooong…!!!”
“eh…kamu kenapa?”
Oh suara itu.. hendakkah kau menolongku? Suara itu kudengar berulang-ulang, hingga aku merasakan berada di tempat yang sedang ditempa gempa. Aku merasakan tubuhku sesekali mengalami goncangan. Dan mataku pelan-pelan kubuka, aku merasakan seseorang berada di dekatku. Oh, apa aku selamat dari terpaan akar kayu itu?
“Tadi kamu teriak, kenapa? Jantungku hampir copot loh. Lihat posisimu sekarang, Kamu jatuh dari tempat tidur. Lihat tuh lenganmu jadi memar” kata Sasa teman satu kamarku.
“Alhamdulillah…ternyata itu hanya mimpi”
***