Hembusan angin malam menusuk dan menjalar keseluruh sendi-sendi tulangku, gigi kaku, mulut tak mampu menganga apalagi mengeluarkan suara untuk berkomentar, hanya deruman suara knalpot motor yang menggerogoti telingaku. Jalanan meliuk-liuk mengkilap dari rembesan air gunung yang menggambarkan kenaturalan Desa Manipi di Kabupaten Sinjai, di bawah terik sinar matahari dengan bongkahan tanah dari atas gunung jatuh ke tanah yang berlapis aspal. Suara tangisan jengkrik di antara deretan pohon pinus yang tumbang dan terjatuh dalam jurang yang berada pas disamping kananku. Salju hitam jelas nampak di depan mataku mengais rerumputan hingga ikut terjatuh di sana, dalam lembah gelap membuat lututku bergetar hebat.
“Awas….!!!” Teriakku tiba-tiba.
Aku harus menyaksikan motor yang kutumpangi makin lama makin dalam keadaan miring di antara licinnya lumpur, cepat kuturunkan kaki hingga sepatu coklat milikku harus menyentuh lumpur merah kecoklatan dengan posisi berdiri di belakang motor yang masih belum mampu di kuasai oleh Randi temanku.
“Cakram….!!!” Teriak salah seorang warga yang juga menyaksikan situasi yang membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Sekali lagi kulirik jurang yang berada disisi kiriku “ah, tinggal sedikit, sedikit lagi aku hampir jatuh ke dalam jurang itu”. Kurang lebih dari seperempat meter aku sudah terjatuh disana tertindis akar kayu yang mengamuk, mengais tanah tak berdosa.
Getaran hebat sangat terasa di bagian dadaku, sekujur tubuhku tiba-tiba dingin, bibirku tak lagi mampu berkata-kata. Nyawa kurasa bagai di ujung tanduk, keputusasaan sudah menyelimuti pikiranku. Dimana lagi aku harus minta pertolongan, komat kamit bibirku berdoa di antara istigfar yang sekali-kali terucap dari lidahku hingga memaksa tanganku untuk berpegang erat ke jacket hitam bagian pinggul Randi.
“Hati-hati” hanya kata-kata itu selalu terucap oleh bibirku di dekat telinga milik Randi, hanya ditemani tangisan jengkrik melewati malam di antara akar-akar pohon yang meronta terjepit bongkahan tanah.
Malam sepi kelam, hanya sekali-kali mataku menangkap bayangan lampu lima watt dari gubuk yang tak jauh dari tempat aku melintasi tikungan-tikungan tajam itupun kurang lebih dari dua kilo aku baru menemukan lagi gubuk yang bentuk dan keadaannya tak jauh beda dari gubuk yang kulihat sebelumnya.
Lumpur masih saja terlihat di antara sinar lampu motor yang kekuning-kuningan hingga harus melewati tanjakan yang lagi-lagi penuh lumpur, bongkahan tanah tergeletak bebas bercampur air yang merembes dari sela-sela akar pohon.
“Pegangnya yang kuat…!!!” teriak Randi tiba-tiba.
Pegangan tanganku akhirnya makin kupererat berharap dapat memberiku ketenangan dan ketegaran.
“Aaaaaaaaaah” teriakku sekali lagi, mesin motor tiba-tiba mati dipertengahan tanjakan hingga motor makin mundur hendak ke dasar tanjakan. Peganganku tiba-tiba kulepas dan sigap aku melompat dari atas motor, tanganku yang semula kaku akhirnya berani menahan bokong motor, tenaga kukerahkan sebisa mungkin. Aneh, aku yang terkenal sangat lemah dan penakut ternyata berhasil menaklukkan tanjakan.
“Tenaga dari mana?” gumamku.
Suara air terjun yang terjatuh dari sela bongkahan tanah menerpa bebatuan besar jelas terdengar di tengah bisunya malam dan akhirnya keheningan dipecahkan oleh suara motor yang menderu-deru dari arah barat hendak berpapasan dari rombonganku dari arah timur. Lambaian tangan dari pengendara motor Jupiter hitam itu tertangkap oleh sorotan lampu motorku. Tangan yang terlihat mengarah ke bawah dan digerakkan naik turun sebagai perintah agar rombonganku segera berhenti.
“Maaf ada apa?” ujar ketua rombonganku memulai pembicaraan setelah mematikan mesin motor. Mataku nanar mencari-cari wajah yang tersembunyi di balik gelapnya malam hingga orang yang membuatku penasaran mengeluarkan suara.
“Maaf, aku cuma menyarankan sebaiknya kalian kembali dan jangan meneruskan perjalanan kalian. Sangat berbahaya” perkataan yang sangat halus, dan mengandung kekhawatiran itu keluar dari bibir seorang ibu yang berbadan lumayan gemuk membawaku dalam kebingungan, Bagaimana mungkin setelah beberapa kilo perjalanan dengan rintangan yang mengancam nyawa harus segera dihentikan.
“Loh, kenapa bisa ibu?” kataku tak percaya.
“Sekali lagi maaf, aku hanya ingin menyelamatkan nyawa kalian. Kami juga hendak ke Sinjai Barat tapi terpaksa kami harus menunda dan kembali ke Makassar. Lihat ini, bapak sudah terjatuh berapa kali” ibu itu mencoba menjelaskan ke kami.
Koyakan akar pohon di antara lumpur mengerikan sudah tergambar jelas di pikiranku, patahnya jembatan yang memaksa harus mendaki di antara lumpur yang mengancam hendak menimbun badan, ditambah lagi bongkahan tanah yang terjatuh dari puncak gunung dan akar-akar pohon terjatuh dengan ukuran yang tidak mampu dirangkul dalam ukuran manusia sepertiku. Gambaran yang terukir dikepalaku dan mungkin saja gambaran itu dirasakan oleh teman satu rombonganku makin diperkuat oleh bukti melihat pakaian suami istri yang penuh dengan lumpur, motor Jupiter yang berlampu terang kini redup tertutup oleh lumpur.
“Ah, pulang aja, takuuuut” ujarku tiba-tiba.
“Sebaiknya kita lanjutkan, berdoa saja biar selamat aku yakin ada jalan keluar, terima kasih atas sarannya ya ibu, bapak” sangat optimis Arsyad sebagai ketua rombongan hendak melanjutkan perjalanan.
Bongkahan tanah kini berada di depan mata, sangat tinggi di tengah-tengah jalan beraspal, terlihat kerumunan warga yang siap membantu meskipun disela-sela itu mereka jadikan sebagai sumber penghasilan. Keberuntungan serasa dipihakku, rombonganku terdiri dari beberapa lelaki yang sedikit memberiku ketenangan dan ketegaran. Beranjak dari tempatku berdiri terpaku, memikirkan solusi yang hendak kulakukan, sepatu kesayanganku kulepas dan kutenteng di tangan kiriku, celana levis abu-abu kulipat ke atas untuk menghindari lumpur.
“Awas.!!!” Teriak Nur temanku.
Tanah yang terinjak dari kakiku tiba-tiba bergerak hendak terjatuh kebawah, di jurang yang gelap menakutkan. Entah kekuatan dari mana aku berhasil melompat kearah Nur dan memeluknya erat-erat. Sekali lagi butiran bening berada di sudut mataku.
“Tidak akan terulang untuk kedua kalinya ya Allah…” ujarku di antara isakan tangisku.
“Istigfar…istigfar…”
Namun pelukan itu terlepas, entah kenapa kekuatan itu tiba-tiba hilang. Kaki kananku terpeleset. Dan ahhhhh…. Aku jatuh ke dalam jurang yang sangat menakutkan. Oh.. badanku terasa sakit setelah beberapa kali terguling, hingga aku berhasil memegang akar kayu. Mataku kupaksa melihat ke bawah.. “astaga..!!!” mataku belum menemukan titik ujungnya, hanya terlihat gelap disana. apakah mungkin aku mengakhiri hidupku disini sendiri? Tiba-tiba mataku menangkap bayangan hitam dari atas.
“Itu…itu…itu… aaaaaaaahhhh” Betapa cepat akar kayu itu bergerak kearahku hendak menimpaku. Dan semakin dekat.
“tolooooong…!!!”
“eh…kamu kenapa?”
Oh suara itu.. hendakkah kau menolongku? Suara itu kudengar berulang-ulang, hingga aku merasakan berada di tempat yang sedang ditempa gempa. Aku merasakan tubuhku sesekali mengalami goncangan. Dan mataku pelan-pelan kubuka, aku merasakan seseorang berada di dekatku. Oh, apa aku selamat dari terpaan akar kayu itu?
“Tadi kamu teriak, kenapa? Jantungku hampir copot loh. Lihat posisimu sekarang, Kamu jatuh dari tempat tidur. Lihat tuh lenganmu jadi memar” kata Sasa teman satu kamarku.
“Alhamdulillah…ternyata itu hanya mimpi”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar