Sebenarnya menceritakan hal ini padamu merupakan hal yang tidak penting. Tapi ingin kujelaskan padamu apa dan bagaimana kejadian dua tahun yang lalu itu. Kehadiran setumpuk pena yang ingin berbagi pengalaman memberiku motivasi untuk menyapa dan bertanya kabar tentang kamu dan pujaan hatimu setelah aku. Mungkinkah dengan lembaran biru yang kau hamparkan selama setahun mampu menutupi seribu kisah dua tahun yang lalu? Mungkin saja dengan bukti yang tidak sengaja kau sudah menjawabnya. Apakah mungkin kau masih menyempatkan diri untuk memikirkannya? Jawabannya hanya ada dalam pikiran kamu.
“Weni.. minggu ini kau akan kedatangan tamu istimewa dan aku berharap kau bisa bahagia mendengarnya” begitulah katamu hanya untuk melihatku tersenyum.
“Mudah-mudahan”
Meskipun sedikit tak mengerti maksud dari perkataanmu, tapi aku mampu merasakan kalau itu adalah persembahan terindah untukku. Perlu pengakuan, setelah pintu lebar seribu kisah tertutup dengan kejadian kemarin, tak pernah lagi kutemukan kisah serupa setelah tiga tahun kemudian.
Aku masih sangat teringat sosok lima tahum silam yang pernah duduk di kursi rotan bekas jerih payah ayah dengan posisi kepala menunduk. Bagiku itu sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin saja kamu bilang itu konyol, memalukan dan sangat mengecewakan tapi bagiku itu adegan yang luar biasa dan aku berharap kejadian serupa bisa terulang untuk kedua kalinya.
“Maksud dari kedatangan kami kemari ingin mempersatukan kembali tali kekeluargaan yang makin lama makin terasa sulit untuk dianalisa dari keturunan keluarga terdahulu sekaligus sebagai ajang silaturrahmi dengan keluarga anda” kata bijak yang sempat tertangkap di telingaku.
“Inikah tamu istimewa yang Dilan katakan kemarin?”
Keheningan seolah-olah menjawab pertanyaanku. Sangat tajam tatapan ayahku ke arah ayahmu yang masih saja menunduk. Tak sepatahpun kata yang diucapkannya, aku hanya menyaksikan kelincahan jemari tangannya mempermainkan puntun rokok dengan beberapa kali isapan saja.
“Kedatangan anda merupakan sebuah penghargaan bagi keluarga kami. Tapi sekiranya berilah kami waktu untuk memikirnya lebih matang. Insya Allah kami akan mengabari anda dalam waktu dekat ini” akhirnya ayah menjawabnya.
Ayah tertunduk hingga kulit wajah yang sudah mulai mengeriput agak terhalang oleh rambut yang cukup jelas dengan torehan putih dan keabu-abuan, entah apa yang ada dipikiran dia sekarang. Harapanku, ayah mampu merasakan dan mengerti apa yang telah terjadi olehku. Tapi setidaknya kamu harus tahu apa jawaban dari beliau..? Jawaban yang tidak mampu kululuhkan meskipun beberapa tembakan bujukan harus kulontarkan.
Ketika itu, ayah mengajariku sakit hati. Menurutku dia telah mengobrak abrik kebahagiaan yang sudah kurancang dan kususun dengan matang. Padahal aku berniat mengurangi beban punggung keriput yang menumpuk. Mengingat kamu sudah lumayan berkecukupan untuk menafkahiku.
Ingatan abu-abumu kembali akan kuhitamkan biar kamu bisa mengerti bagaimana diary dari wanita yang pernah kau puja dan kau campakkan selanjutnya. Jelas saja bisikan hati kamu berkata “ah..tidak” tapi aku selalu berkata “iya”. Terlalu boros jika aku harus membeberkan banyak tinta hanya untuk meminta pengertian kamu, karena jelas saja kau tidak peduli.
Hhhh..pernah aku menyaksikan kenekatan kamu berbicara langsung dengan ayah hanya untuk meminta restu. Bukan lagi ayah kamu atau suruhan ayah kamu yang membahas masalah yang semestinya tidak boleh dilakukan olehmu. Pekikan suara tangisan yang tertahan sangat jelas terdengar olehku, meskipun hanya dengan alat komunikasi.
Yah, akan kujawab kebingunganmu sekarang. Kenapa ayah mengulur waktu untuk merespon lamaranmu? Mengapa ada kata saudara perempuanku melarangku kawin muda? Kenapa lamaranmu tidak diterima sama seperti pamanmu yang pernah melamar dua kali berturut-turut adik dari ayahku? Bukan karena harta ataupun rupamu. Tapi kamu harus menelusuri silsilah keluarga dan adat yang berlaku. Silsilah keluarga yang terbeberkan di lontara dan darah takku masih berlaku bagi keluargaku dan kamu tidak termasuk kedalamnya, meskipun aturan seperti itu sama sekali tidak diterima oleh akalku. Menerima kau apa adanya akan membuatku tersisihkan dari keluargaku.
Ingatan aku masih hitam, tidak pernah menjadi abu-abu apalagi menjadi putih ketika kamu memintaku menemuimu di bandara Hasanuddin Makassar. Sangat kurasakan betapa sakitnya harus memilih satu di antara dua pilihan dan harus kehilangan salah satunya.
“Sekarang aku berada di bandara. Aku minta keputusan dari kau yang menurutmu paling terbaik dan apapun itu aku siap mendengarnya. Kalaupun memang kamu ingin tetap memilih ikut denganku, sekarang juga aku jemput kamu” perkataan kamu hampir membuatku kehilangan kendali. Memang saat itu, aku berada di Makassar dan namaku sudah terdaftar di salah satu Universitas ternama di Makassar. Kuliah dijadikan alasan utama agar kamu dapat berlapang dada menerima keputusan dari ayah meskipun itu sedikit menguras keadaan ekonomi keluarga. Yah, dengan cara itulah sehingga kau tidak mengetahui alasan yang sebenarnya guna menghindari rasa tersinggung dari pihak keluargamu.
Meskipun sulit, tapi tidak sedikitpun sikap pesimisku muncul untuk menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dengan harapan kata pisah tidak berlanjut. Bukan karena Dilan yang lain sudah tidak ada, tapi mungkin tidak akan kutemukan sosok sederhana dan bertanggung jawab sepertimu.
Sekarang giliran ketika kau kembali ke tanah kelahiranmu, setelah bertahun-tahun berjuang mencari nafkah di bangsa dimetri. Kamu harus kembali dengan menerima kekecewaan dan menyaksikan merah padam wajah keluargamu. Aku sangat merasakan hal itu, karena ketololan kamu, keceplosan kamu, yang tanpa banyak pertimbangan kamu seenaknya memutuskan uang tunai yang kau siapkan untuk meminangku. Andai kata uang tunai tidak sebanyak biaya pembelian ikan busuk, mungkin aku tidak akan berkomentar. Sangat tersinggung, hanya dengan uang seikat kamu sudah mantap untuk mempersuntingku. Mungkin menurutmu itu sudah sangat lumayan, tapi setidaknya kamu mengangkat sedikit harga diriku dengan memberiku uang tunai lebih dari uang tunai saudara kandungku. Mengingat hal itu, penyesalan selalu menghantuiku. Kenapa aku harus meresponmu waktu itu? Bukankah itu keputusan dan hak keluarga yang menentukannya?
Bagaimana dampaknya? Saling sindir dari kedua pihak keluarga tidak mampu di elakkan. itu karena ketololan kamu, kenapa kamu menyampaikan hal itu kepada mereka? Aku bisa memastikan kamu tidak berminat lagi untuk mengenangnya. Tapi aku tidak menginginkan kau seenaknya mendelete kejadian yang menurutku sangat berharga. Perasaan khawatirmu akan munculnya tanduk kemarahan pujaan hatimu mengantarmu seolah tidak pernah merasakan hal itu. Dia berhak tahu. Weni pernah menjadi sosok paling terindah di dalam hidup suaminya.
Oya, mudah-mudahan ingatan kamu masih pulih. Ketika virus-virus negative telah menguasaimu, kau mengajakku ke daerah primitive tempatmu mencari nafkah. Bagaimana keputusanku dengan pertanyaan kamu? kata “iya” lantang kuucapkan. Aku siap mengikutimu, meskipun harus meminta pengakuanmu untuk tidak mengembalikan aku di tanah kelahiranku.Tapi ketika itu pula, dengan sangat pelan kau membatalkan niatmu. Entah apa yang dalam pikiran kamu.
“Dilan, aku takut kehilangan kamu. Tapi aku yakin, pasti orang tuamu sudah mempersiapkan calon buat kamu. Mudah-mudahan dialah yang terbaik, sosok yang dikirim Tuhan untukmu. Kamu tidak perlu hiraukan bagaimanan perasaanku, biarkan dia tumbuh dan harus menanggung pahitnya hidup tapi itu harus kujalani. Insya Allah rasa sakit itu akan sembuh dengan perlahan meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Tunggu aku di pesta kebahagiaanmu”
Dekapan hangat tangan kamu masih sangat kuingat. Ketika untuk pertama dan terakhir kalinya kamu mencium keningku. Yah,, itu kenang-kenangan yang kamu simpan buat aku. Kamu menangis dan merangkul aku. “tangisan perpisahan” kita tidak mungkin bersatu Dilan.
Kamu tahu tidak? Menuangkan tinta di kertas putih sungguh sangat menguras air mataku. Aku hanya berpesan sekarang atau suatu saat nanti kalau dia tidak menyayangimu sama seperti aku, tolong cari keberadaanku, dimanapun aku. Kamu harus mendapatkannya. Karena saat itu aku belum mendapatkan sosok yang dapat menggantikan posisimu.
“Jujur saja. Aku telah dipertemukan dengan seseorang keluarga dari ibu. Aku ingin meminta restu kamu Weni. Ijinkan aku untuk bersujud di depan kamu. Aku meminta maaf telah menyimpan luka untukmu”
Kamu bersujud dan sesekali memandang mataku. Kamu lihat kan? Betapa banyak air mata habis terkuras hanya untuk mengakhiri semuanya.
Dilan, beberapa hari setelah kejadian itu, kabar angin telah banyak sampai di telingaku. Kamu akan merayakan hari kebahagiaan kamu dengan gaun selayaknya raja meskipun hanya sehari. Tangisan selalu kukeluarkan meskipun itu harus kuadukan dengan bantal-bantal yang berkeliaran di kamarku. Hanya itu yang mampu kulakukan. Terlebih lagi, aku harus menerima tamu yang ternyata hanya ingin mengantar undangan pernikahanmu. Ukhh….
Meskipun beberapa ocehan tetangga yang sempat terekam diingatanku kalau kau sempat melawan orang tuamu hanya untuk mempertahankan aku. Terima kasih banyak, kamu masih sempat melakukannya meskipun itu tidak berhasil.
Dengan torehan pena ini, aku ingin meminta maaf. Permintaan maaf yang sampai sekarang ini belum tersampaikan. Jangan pernah merasa tersinggung dengan torehan ini, aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang pernah terjadi dua tahun yang lalu. Mudah-mudahan kehadiranku tidak mengganggu ketenangan keluargamu. Torehan yang kuciptakan hanya untukmu agar kau mampu merasakan bagaimana kebenaran dua tahun yang lalu. Keyakinan memotivasiku untuk bertanya kabar kepadamu dan menghitamkan ingatan kamu, karena aku yakin sekarang kamu belum menjadi putih dan masih abu-abu.
Oh hapeku memekik. Tak perlu lagi kauceritakan semua itu. Aku memang telah tahu dari awal! Dilan.
“Dilan? Bagaimana ia bisa tahu?”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar